Oleh: tim P-ID

8 Juli 2021. Kegiatan “Temu Kolaborasi ke-2″ merupakan sebuah pertemuan berkala yang diselenggarakan oleh pihak Universitas Cendrawasih (UNCEN) dengan para mitra / stake holders yang berkontribusi pada kemajuan Uncen. Secara umum dibahas berbagai perkembangan kemitraan yang telah terjadi, disertai dengan penjajagan atas kemungkinan kemitraan yang baru. Pertemuan ini kedua kalinya diadakan, dan dihadiri baik oleh perwakilan pemerintah daerah maupun pihak swasta. Asisten 1 Setda Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri hadir mewakili pemerintah daerah kabupaten Jayapura, sedang sejumlah nama seperti BNI 46, Freeport Indonesia (FI) dan Pertamina hadir mewakili pihak swasta.

Rangkaian kegiatan Temu Kolaborasi 2 ini dibuka oleh Rektor UNCEN, Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T., MT. yang dalam pengarahnnya antara lain menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ajakan UNCEN untuk bekerjasama dengan semua pihak dalam membangun Tanah Papua. Tak lupa, Rektor juga menekankan bahwa kegiatan ini merupakan platform membangun kepercayaan antara UNCEN dengan para pemangku kepentingan. 

Acara dilanjutkan dengan diskusi kolaborasi yang dipandu oleh DR. Hanz Kaywai dari UNCEN dengan menampilkan 4 (empat) nara sumber dari PT Freeport Indonesia, Kabupaten Jayapura, BNI 46 dan Pertamina.

Asisten 1 Setda Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri menggarisbawahi bahwa dalam masa 10 tahun kepemimpinan bupati, banyak kerjasama yang telah dilakukan dengan UNCEN di bidang ekonomi, budaya, dan politik strategis, termasuk kajian-kajian tentang pemekaran distrik dan kampung.  Bahkan salah satu peraturan daerah (perda) tentang masyarakat hukum adat, lahir dengan dukungan akademisi UNCEN.

“Program strategis Pemkab Jayapura bisa diakui oleh pemerintah provinsi dan kementerian karena dukungan kajian-kajian akademis dari UNCEN,” tegas Abdul Rahman Basri. “Kerjasama dengan UNCEN memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat Kabupaten Jayapura dalam meningkatkan kualitas SDM,” lanjutnya.

Lebih jauh, Abdul Rahman juga mengatakan bahwa atas dasar kajian UNCEN pula Pemkab Jayapura lalu membentuk Gugus Tugas Masyarakat Adat yang merupakan kolaborasi Pemda dengan UNCEN, NGO dan berbagai elemen terkait. Gugus tugas ini bertugas melakukan pemetaan partisipatif wilayah adat agar dapat memberikan pengakuan perlindungan terhadap wilayah adat di Kabupaten Jayapura dan memberikan dukungan pemberdayaan masyarakat adat.

Bagi PT. Freeport Indonesia, kerjasama dengan UNCEN bukanlah hal yang baru. VP Community Relations PT Freeport Indonesia, Arnold Kayame menjelaskan, sudah banyak kerjasama yang terjadi, dimana yang terbaru antara lain adalah dalam bidang penelitian antropologi. Dalam penelitian ini, pihak Freeport sangat puas bekerjasama dengan para peneliti dari UNCEN, karena hasil penelitian ini  mendapat pujian dari sebuah organisasi riset international.  Oleh karena itu, PT. FI akan melanjutkan penelitian lainnya dan bekerjasama kembali dengan pihak UNCEN.

Perihal kualitas SDM yang dihasilkan UNCEN diakui oleh pimpinan BNI Wilayah Papua dan Papua Barat, Setiawan Jahja Adie. Lebih jauh ia mengharapkan knowledge transfer dari alumni UNCEN kepada mahasiswa UNCEN yang masih kuliah, guna mempersiapkan mereka di dunia kerja. “Kami punya keinginan, teman-teman dari UNCEN yang sudah berkiprah bisa sharing (pengalaman) dengan adik-adik mahasiswa yang sedang belajar secara berkala. Mereka yang sudah punya pengalaman organisasi dan finansial, menambah pengetahuan adik-adik yang sedang belajar sehingga adik-adik ini bisa menjadi SDM yang bisa langsung beraksi di lapangan, terutama dari sisi kewirausahaan,” ujar Setiawan. Ia juga berharap, mahasiswa UNCEN nantinya dapat berkiprah di dunia digital karena perubahan kondisi saat ini memang mendorong agar lebih memanfaatkan potensi digital yang ada.

Sementara itu, Unit Manager Comms dan CSR Pertamina untuk Region 8 (Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara), Eddie Mangun, menyampaikan perlunya pendampingan dari UNCEN. “Kami membutuhkan UNCEN sebagai pendamping untuk menjalankan program-program CSR, mengarahkan Pertamina agar yang kami beri ke masyarakat tepat sasaran, tepat guna dan memberikan pemberdayaan kepada masyarakat. Hal ini penting karena Papua memiliki kearifan-kearifan lokal yang berbeda dengan masyarakat di Indonesia Tengah dan Barat,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Tim UNCEN juga menyampaikan harapan-harapannya.  Diantaranya adalah Dekan FMIPA UNCEN, yang mengamini bahwa beberapa kepala cabang BNI adalah alumni FMIPA UNCEN. Meski ia berharap, ke depannya, bentuk-bentuk kerjasama bisa lebih difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, karena hal inilah yang menjadi tugas universitas. Lalu, ada pula Dekan Olahraga UNCEN yang menawarkan kerjasama dengan memberdayakan lulusan Fakultas Keolahragaan UNCEN untuk menjadi bagian dari upaya pemeliharaan fasilitas olahraga yang dibangun untuk PON di Papua, agar fasilitas tersebut bisa terpelihara dan terus dinikmati oleh masyarakat.

Mencermati jalannya diskusi Market Place 2 tersebut maka dapat disimpulkan bahwa:

Banyak pihak yang tertarik untuk melanjutkan kerjasama dengan UNCEN atau membuat kerjasama baru untuk program-program lain. Hal ini terlihat dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara PT. Freepot Indonesia yang diwakili oleh VP Community Relations dan UNCEN yang diwakili langsung oleh Rektor.

Ada permintaan agar kerjasama antara UNCEN dan mitra-mitranya lebih merespon kebutuhan masing-masing pihak.

UNCEN telah banyak melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, namun dokumentasi kerjasama dan hasilnya belum dikelola secara baik dan dipublikasikan kepada pemangku kepentingan utama dan publik. Maka dari point ini, nyatalah bahwa kebutuhan akan dashboard UNCEN sebagai database resource terpadu untuk kemitraan dan keilmuan merupakan hal yang tak dapat ditawar-tawar lagi

(af/tip/ks)