Artikel kali ini menampilkan satu kelompok para pihak yang terikat dalam sebuah partnership (tema besar yang memang menjadi fokus kajian dari Partnership-ID selama ini) dalam bidang pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan. Kelompok tersebut bernama Free Fire Alliance (FFA), yang dalam perkembangannya juga menjadikan Partnership – ID sebagai mitra strategis organisasinya. Tim P-ID menghimpun dari berbagai sumber untuk menampilkan sosok FFA, sebagai bagian dari upaya untuk terus memperkenalkan kemitraan sebagai pola kerjasama yang selayaknya dikedepankan dalam berbagai penanganan isu-isu lingkungan dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

Fire Free Alliance (FFA) merupakan kelompok multi-stakeholder sukarela yang terdiri dari perusahaan kehutanan dan pertanian, LSM serta pihak-pihak dan mitra terkait lainnya. FFA berkomitmen untuk menyelesaikan masalah kabut asap yang terus berlanjut di Indonesia yang timbul dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia[i]. Para anggota berkolaborasi untuk berbagi informasi, pengetahuan serta sumber daya terbuka guna mencapai solusi abadi guna mencapai Indonesia bebas kebakaran. Pencegahan kebakaran melalui pelibatan masyarakat telah terbukti menjadi metode yang ampuh untuk mengurangi insiden kebakaran dan kabut asap yang tidak terkelola pada berbagai lahan.

FFA diluncurkan pada 29 Februari 2016 di Jakarta oleh APRIL (Asia Pacific Resources International Holdings Limited) grup, Asian Agri, Musim Mas, Wilmar, Sime Darby dan sejumlah LSM termasuk PM. Haze, Rumah Pohon dan IDH, sebagai respon terhadap musim kebakaran El Nino pada tahun 2015, yang menyebabkan kerusakan besar pada hutan dan lahan yang tidak dikelola, menyebabkan kerugian ekonomi yang menurut perkiraan Bank Dunia mencapai US$16 miliar dan secara signifikan berdampak pada kesehatan masyarakat.

FFA berupaya mencapai pencegahan kebakaran terutama melalui keterlibatan masyarakat, dan semua ini bermula dari keberhasilan sebuah program lokal bernama Program Desa Bebas Api (Free Fire Villages Programme, FFVP). Program ini merupakan percontohan pengelolaan kebakaran skala kecil yang diprakarsai dan dipimpin oleh APRIL grup. FFVP, yang diluncurkan setahun sebelumnya pada Juli 2015, pertama kali diterapkan pada sembilan desa di propinsi Riau, Indonesia. FFVP berfokus pada pencegahan dan pemadaman kebakaran, dan mencakup pendekatan lima cabang termasuk insentif tanpa pembakaran untuk penduduk desa, pemimpin kru pemadam kebakaran masyarakat, alternatif pertanian berkelanjutan, pemantauan kualitas udara, dan program kesadaran masyarakat.

Hasilnya menggembirakan, yang terlihat dari penurunan insiden kebakaran hingga 90 persen, sehingga program ini kemudian diperluas ke 20 desa.[i] Keberhasilan implementasi FFVP memberikan dorongan untuk pengembangan FFA, yang berupaya menerapkan dan meningkatkan skala FFVP ke komunitas dan lanskap lain. Hasilnya, pada tahun 2017, inisiatif FFA telah dilaksanakan pada lebih dari 200 desa di Indonesia, yang mencakup lebih dari 1,5 juta hektar lahan.[ii]

Tujuan FFA

  • Meningkatkan efektivitas program bebas api yang dilaksanakan oleh anggota.
  • Mengembangkan panduan teknis yang telah teruji di lapangan yang tersedia untuk umum
  • Meningkatkan penyerapan program-program bebas api di daerah-daerah di mana anggota beroperasi.
  • Berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan adopsi program bebas kebakaran.

Prinsip Kerja FFA

  • Berkomitmen untuk membina kolaborasi, berbagi informasi dan membangun sinergi antara semua anggota.
  • Menjalin komunikasi yang terbuka dan saling menghormati antar anggota.
  • Menempatkan kesehatan, mata pencaharian dan produktivitas desa dan masyarakat yang terkena dampak sebagai tema pokok setiap diskusi, sambil melindungi lingkungan dari kebakaran dan kabut asap.
  • Menciptakan nilai tambah bagi penduduk desa, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, dengan menjadikan FFA ‘lebih besar dari jumlah semua anggota dan pesertanya

Metode dan Praktek FFA Dalam Mengurangi Resiko Kebakaran dan Melakukan Perubahan.

FFA telah mengadakan pertemuan panel reguler dan lokakarya teknis di Indonesia dan Singapura. FFA berupaya menumbuhkan budaya berbagi, kepercayaan, dan kolaborasi antara anggota serta pemangku kepentingan lainnya. Keanggotaan FFA terbuka untuk setiap organisasi yang terlibat atau berencana untuk terlibat dalam solusi praktis dan operasional untuk masalah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dan Asia Tenggara. Untuk itu, anggota FFA harus menunjukkan atau merencanakan komitmen untuk keterlibatan teknis di lapangan dengan fokus pada pencegahan kebakaran.

Berikut ini dijabarkan metode dan praktek yang direncanakan dan telah terlaksana oleh FFA dalam rangka mengurangi resiko kebakaran dan tidak hanya itu, juga melakukan perubahan perilaku masyarakat yang mendukung upaya pencegahan resiko tersebut.

Melakukan Pencegahan dan Pemantauan Kebakaran

  • Terlibat dengan komunitas-komunitas di masyarakat sekitar lokasi pengelolaan anggota FFA.
  • Mengembangkan peta risiko kebakaran
  • Pemantauan lanskap hingga ke luar batas lahan yang menjadi pengelolaan anggota FFA

Mekanisme Alternatif Persiapan Lokasi Penanaman

  • Salah satu penyebab kebakaran lahan terkait dengan cara-cara masyarakat dalam menyiapkan lahan guna kegiatan penanaman selanjutnya.
  • FFA menyiapkan dan mengedukasi alternatif penyiapan lahan bagi masyarakat selain menggunakan cara pembakaran.

Mendukung Pengembangan Masyarakat

  • Masalah ekonomi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari persoalan kebakaran lahan. Untuk itulah FFA mendukung dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan ekonomi alternatif guna menghasilkan pemasukan pendapatan rakyat tanpa melakukan pembakaran.
  • Diantara kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pertanian berkelanjutan, memproduksi hasil-hasil hutan selain kayu, mengembangkan kerajinan, budidaya ikan hingga pengelolaan limbah.

Meningkatkan Kesadaran dan Pelatihan

  • Meningkatkan kesadaran di desa-desa tentang dampak kebakaran dan kabut asap serta alternatif pembakaran melalui berbagai kegiatan termasuk diskusi di sekolah-sekolah dan pemutaran film.
  • Melatih anggota masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pemadam kebakaran mandiri oleh anggota masyarakat.

Pemberian Penghargaan “Desa Tanpa Pembakaran”

  • Memberikan penghargaan kepada desa-desa yang tidak melakukan pembakaran hutan dengan aneka hibah proyek.

Pemantauan Kabut

  • Memantau tingkat kabut asap, memberikan saran dan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak kabut asap.

Implementasi Kegiatan

Menurut “Member Review’s Group” tahun 2016, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam FFA saat ini terlibat dengan proyek-proyek utama di lebih dari 200 desa, dengan rincian sebagai berikut:

Nama dan Jenis ProyekPenjelasan
No Burn Village Rewards, (Penghargaan Desa Tanpa Pembakaran)Memberikan penghargaan kepada desa-desa yang tidak melakukan/mengalami kebakaran hutan di wilayah yang dialokasikan untuk mereka.
Rekrutmen Pimpinan Kru Anti Kebakaran DesaProgram untuk merekrut individu dari komunitas lokal sebagai pelaku pencegahan kebakaran dan spesialis pemadam kebakaran di tingkat desa.
Bantuan Bagi Pertanian BerkelanjutanPenyediaan alternatif pertanian yang cocok dengan tehnik non pembakaran untuk kegiatan pengelolaan lahan.
Komunitas Sadar KebakaranPengembangan berbagai alat kesadaran masyarakat yang sesuai dan fokus pada akibat-akibat penggunaan api yang tidak tepat serta dampak pembakaran.
Pemantauan Kualitas UdaraPemasangan pemantau Kualitas Udara Kabut Asap dan pelacakan serta pemantauan informasi kesehatan terkait.
Program PercontohanPelaksanaan program-program baru yang dikembangkan dan disarankan oleh FFA dan masyarakat.

Dampak dari Inisiatif-Inisiatif FFA

Sejumlah efek negatif dari musim kebakaran 2015 di Indonesia mengakibatkan situasi diplomatik internasional, karena negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Singapura menderita hal yang cukup serius akibat kondisi kabut asap yang muncul. Sejak saat itu, berbagai program dan aktifitas telah diluncurkan, dan beberapa diantaranya bahkan telah diakui keberhasilannya dalam mengurangi tingkat dan dampak kebakaran hutan tersebut.

Lebih jauh, menurut “Member Review FFA 2016”, anggota – anggota FFA telah mencapai hal-hal berikut pada tahun 2016:

Nama AnggotaCapaian
APRIL groupMerekrut 50 desa dalam program “Komunitas Sadar Api” dengan 18 desa berhasil menjalankan FFVP,  naik dari 9 desa yang terlibat tahun lalu, berlokasi di propinsi Riau, Sumatra.
Asian Agri7 desa di Riau, 2 di Jambi masuk dalam evaluasi program sejak Oktober 2016.
IDHMendukung CPO Fund untuk mengembangkan 5 desa di Sumatera Selatan
Musim Mas71 desa terlibat dalam kesadaran (untuk tidak melakukan pembakaran lahan)
PM.HazeProyek sekat kanal dan kampanye minyak sawit bersertifikat RSPO untuk restoran-restoran di Singapura dan sukses meningkatkan kesadaran yang luas terhadap RSPO. Catatan: Sertifikasi RSPO (Roundtable Sustainable on Palm Oil) merupakan jaminan kepada pelanggan bahwa produksi minyak sawit dilakukan sesuai standar berkelanjutan.
WilmarMenyelesaikan sosialisasi program “Masyarakat Bebas Api” di 61 desa dan menandatangani MOU dengan 42 komunitas di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Sime DarbyMelaksanakan program “Pencegahan Kebakaran melalui Praktik Pertanian Berkelanjutan” di 4 desa, bekerja sama dengan Universitas Riau (UNRI) dan berhasil mengurangi titik api secara signifikan.
IOI GroupMenerapkan penilaian stok konservasi tinggi, pemetaan lahan gambut dan restorasi lahan gambut awal. 50 orang telah dilatih Fire Awareness Training (FAT) oleh Manggala Agni Pontianak (10 dari PT BSS, 20 dari PT BNS dan 20 dari PT SKS), MoU dengan BKSDA Pontianak serta “Pencegahan dan Patroli” di Kawasan Konsesi dan Konservasi Perbatasan (2016–2020).

Penutup

Memasuki akhir 2021, Partnership-ID (P-ID) direncanakan untuk terlibat lebih intensif dalam menjalankan fungsi-fungsi koordinasi dalam internal FFA, dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemitraan yang memang menjadi focus P-ID selama ini. Hal ini tentu saja akan menambah catatan portofolio positif P-ID sebagai pihak yang konsisten dalam mensosialisasikan kemitraan sebagai pola hubungan simbiotik yang menguntungkan berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.


 

[i]  “Fire Free Alliance”. www.firefreealliance.org. Retrieved 2017-05-05.

[i]  “Programme to get Indonesian farmers to stop burning land sees results”. Channel NewsAsia. Retrieved 2017-05-05.

[ii]  “Fire Free Alliance: One Year On – APRIL Dialog”. APRIL Dialog. 2017-04-03. Retrieved 2017-05-05.


Tags: