Dalam artikel berjudul “Mengubah Pendekatan Transaksional Menjadi Transformasional” yang ditulis oleh John Kenney[i], implementasi pendekatan tersebut dalam konteks Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Secara empirik, sejumlah kendala masih mudah ditemui mengingat konteks Indonesia yang berbeda: mulai dari kualitas SDM hingga persoalan integritas dan profesionalisme para pelaku di lapangan. Belum lagi, sebagaimana terungkap dalam berbagai literatur dan kajian-kajian tehnis pelaksanaan pola partnership, persoalan ego sektoral masih membayang-bayangi berbagai program berbasis kemitraan di Indonesia.[ii]
Namun dalam kasus tertentu, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Perubahan pola pendekatan itu betul-betul nyata dan dapat terjadi di Indonesia. Setidaknya, hal itulah yang terekam dalam menelisik kinerja Komunitas Konservasi Indonesia Warung Konservasi (KKI Warsi) di Jambi. Lewat penuturan project officer program tersebut, Nor Qomariah, MM., dapat disimpulkan bahwa perubahan paradigma transaksional menjadi transformasional terlihat ketika para pihak yang menjadi stake holder Kawasan hutan Bukit 30, dengan kesadarannya sendiri menyatakan bersedia dalam aktifitas patroli bersama menjaga hutan seluas sekitar 651.232 ha itu. Kesediaan itu dibuktikan lewat penyediaan sarana masing-masing pihak, yang menandakan adanya kesadaran ‘baru’ yang tumbuh dalam menjaga hutan Bukit 30. Sebuah prestasi yang bahkan dikomentari oleh Erna Witoelar, srikandi lingkungan hidup Indonesia sebagai sebuah “torehan sejarah yang belum ada preseden sebelumnya.”[iii]
Atas dasar itu, tim P-ID mewawancarai Nor Qomariyah, MM., guna mendapatkan insight lebih rinci atas kinerja KKI-Warsi – Jambi itu. Bagaimana perubahan paradigma itu dapat terjadi, berikut petikan wawancara selengkapnya dengan wanita yang kerap dipanggil Qoqom ini:
Bisakah Anda menjelaskan awal keterlibatan di proyek KKI ini?
Keterlibatan saya di KKI Warsi dimulai tahun 2017, awal MCAI (Millenniun Challenge Account Indonesia) project sebagai Social Gender Integration Plan (SGIP). Melakukan berbagai kegiatan yang terkait penyadaran soal gender dan bagaimana mengintegrasikannya pada project. Tahun 2018 bergabung sebagai knowledge management secara kelembagaan Warsi dan sebagai research specialist di REDD (Reducing Emisions from Degradation and Forest Deforestation) yang mengidentifikasi secara social impact dan how to manage it for beneficiaries in this project. Hingga di tahun 2020, menjadi project officers untuk Partnership for Forest (P4F) dengan Palladium UK, hingga sekarang.
Tentunya ini tidak sesuai dengan background Pendidikan saya. Saya di S1 lebih ke politik dan tata negara, S2 nya lebih ke marketing management. Bahkan belum punya interest soal sumber daya alam dan hutan saat itu..
Apa saja ruang lingkup kerja pada posisi Anda ini?
Kalau lingkup kerja untuk SGIP lebih pada memetakan gender issues, analisis, memastikan project menggunakan analisis gender dalam implementasinya dan melakukan pemberdayaan ekonomi memperkuat perempuan yang berada di dalam maupun di sekitar hutan. Di knowledge management dan research, saya memotret lebih jauh sebagai pembelajaran teman-teman Warsi, bagaimana melakukan pendampingan, lalu menentukan beneficiaries, memotret masyarakat di sosec nya dan baseline project. Di P4F yang sekarang saya pegang, adalah menghubungkan private company (WKS-Sinar Mas APP, PT. Alam Bukit Tigapuluh, PT. Royal Lestari Utama, PT. Tebo Multi Agro), dengan SKPD (Dishut, Gakkum, BKSDA, BTNBT, KPHP), Civil Society Organization mulai dari Warsi, Walhi, Inisiasi, ORIK, Akademisi, Orang Rimba, Suku Talang Mamak hingga masyarakat desa sekitar, bahkan pendatang. Saya berupaya membangun pengelolaan landskap kolaboratif.
Bagaimana cara Anda beradaptasi dan mengakslerasi kemampuan di bidang kehutanan?
Hehehe….banyak hal akhirnya saya pelajari. Learning by doing, lambat laun saya mulai menyukai soal kehutanan, lingkungan, isu yang penting dimana manusia, hewan (dan) tumbuhan, tinggal. This is a beautiful planet for us. Saya memadukan keilmuan politik dan marketing dalam mengelola kolaborasi di landskap Bukit Tigapuluh saat ini.
Saya sudah membaca paparan Anda tentang betapa menantangnya mengatur partnership antara para pihak dalam membangun “landskap kolaboratif” tersebut. Bisakah Anda menggambarkan langkah-langkah apa saja yang dilakukan?
Langkah-langkah yang saya lakukan, satu, membangun trust. Dua, intensive communication and coordination with LMs, government, community, others stakeholders. Disini saya managing internal & external team beyond project. Ketiga, sinergi dan integrasi program kegiatan. Untuk itu saya lakukan lewat serial meeting , termasuk external PKBT relate our concern, coaching, training, NTFP development, sampai landscape protection. Empat, memastikan capaiannya deliverables dan menentukan milestone bersama.
Saya mengedepankan personal approach, mengikat dalam hubungan tak hanya pekerjaan tapi juga dengan emosional, menggunakan hati melihat landskap dan tutupan hutan serta makhluk lain. Jadi lebih membangun proses kesadaran bersama.
Dalam mentoring dengan P-ID bulan Juli 2021 lalu, Qoqom sempat mengemukakan “filosofi menjahit baju” sebagai dasar berfikir kolaboratifnya. Kinerja berbasis filosofi itu terhitung tidak biasa, sampai-sampai Erna Witoelar, co-founder Partnership-ID dan juga srikandi lingkungan Indonesia itu, menyebut Qoqom telah mengukir sejarah baru. Dalam pandangan Erna, belum pernah ada sebelumnya, LSM dapat duduk bersama dengan pihak perusahaan perhutanan dan kemudian, bersepakat melakukan tindakan berupa patroli bersama. Bahkan grup Sinar Mas menjadikan kegiatan itu sebagai acuan di lahan kehutanan mereka pada lokasi yang berbeda.
Bagaimana kemudian filosofi “menjahit baju” itu timbul dan diterapkan oleh Anda?
Menjahit baju pada akhirnya timbul ketika mulai menganalisis stakeholder, membagi peran mereka, ketertarikan terhadap isu, how to nya. Saluran komunikasi hampir semua saya gunakan. WA, call, ketemu langsung kopdar, jogging bareng, karaoke bareng, makan bareng hingga patroli bersama. Jadi semua struktur posisi di perusahaan saya deketin, mulai dari high level, manajer, filed officers hingga masyarakat.

Smart Patrol Training Kolaboratif
Jika masalah dipetakan, apa yang utama timbul diantara para stake holder?
Biasanya yang paling sering muncul adalah fragmentasi kepentingan di masing-masing pihak, ego sektoral dari government, tidak memahami goals besar dan konsep yang dibangun, sehingga tidak terkoneksi dan salah faham serta missed communication.
Hutan Bukit 30 itu kawasan hutan lindung, konservasi atau apa? Berapa luasnya?
Ada kawasan lindung, Hutan Lindung Bukit Limau, ada kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), ada Kawasan Konservasi (HCV-HCS), Home Range gajah dan satwa lainnya Harimau Sumatra, dan lain-lain. Luasnya sekitar 650.000 an hektar..
Patroli bersama antar para pihak dalam menjaga hutan ini menarik. Bahkan bu Erna Witoelar menyebut kamu membuat sejarah dalam hubungan antar stake holder. Bisa diceritakan prosesnya hingga sampai tiba pada keputusan itu?
Ini merupakan proses yang panjang. Di tahun pertama, saya melakukan intensive communication melalui ketemu langsung, berkenalan, ngobrol hal-hal ringan yang membuat mereka interest hingga hobby, makanan favorite, lagu kesukaan. Hingga akhirnya dalam 5 bulan, saya berhasil mengkoneksikan seluruh pihak antar perusahaan pemerintah dan masyarakat pemegang izin. Trust dan kedekatan emosional menjadi kunci keberhasilan hingga berhasil saya jejakkan, berangkat dari hati memulai menjaga hutan di Bukit Tigapuluh. Jika bukan kita semua, ini tentu akan habis dan tentu saja sama-sama. Bukan hanya satwa yang tidak punya tempat, manusia kehilangan sumber penghidupan sekaligus tempat hidup secara sistematis. Keputusan bersejarah ini dimulai pada November 2020 (sejak Juli 2020 saya mulai komunikasi), baru terjadi kesepakatan mau patroli bersama
Bagaimana cara menyatukan kepentingan-kepentingan yang bersebrangan itu ya? Pihak perusahaan yang inginnya mengambil hasil hutan, akan bertubrukan dengan kemauan warga lokal, LSM dan pemda yang ingin agar hutan tetap tidak disentuh-sentuh. How do you make it?
Ini yang harus kita jeli melihat. Saya presentasikan (bahwa) ketika ini tak dijaga, secara valuasi ekonomi berapa kerugian yang juga ditanggung perusahaan? Tentu perusahaan butuh branding secara nasional dan internasional dalam memasarkan produknya. Prinsip IFCS (International Finance Corporate Standard) misalnya, yang ditekankan sebagai standar oleh Worldbank, menjadi salah satu kunci menyatukan hal ini.
NGo juga saya bangun kesadaran bahwa tak bisa sebuah advokasi hanya dilakukan ketika kita menggunakan paradigma negatif. Seolah-olah semua tak bisa diperbaiki. Atau menggunakan kacamata kuda. Tidak demikian, kita seharusnya bisa melakukan upaya lebih dalam dan soft, mengajak tidak melulu menggunakan logika kekerasan atau bahkan dengan saling beradu kekuatan, namun dengan secara pelan menyadari bahwa (jika) kita di titik yang sama, hal ini bisa digerakkan. Karena pada dasarnya NGO juga butuh branding dalam kesuksesan melakukan program.
Bagaimana Anda mengkomunikasikan soal ini pada penduduk local?
Local people adalah penduduk atau suku asli yang memang tinggal di area ini, dan ini ada beberapa kategori. Ada Orang Rimba yang memang tinggal di dalam kawasan hutan, dan suku Talang Mamak. Dua, orang desa yang memang menjadi struktur masyarakat dan biasanya ditandai dengan Melayu Tua yang merupakan nenek moyang local people.
Nah, Orang Rimba dan Suku Talang Mamak sudah bertransformasi, mereka sebagian besar terutama usia anak, sudah mengenyam pendidikan dasar informal, dan cukup memahami bahasa Indonesia dengan baik, namun kita juga bisa menggunakan bahasa mereka dalam melakukan edukasi. Kalau suku Melayu Tua yang di desa jauh lebih maju. Jadi tak ada masalah komunikasi.

“…Orang Rimba dan Suku Talang Mamak sudah bertransformasi, mereka sebagian besar, terutama usia anak,…cukup memahami bahasa Indonesia dengan baik..”
Kembali ke soal patroli bersama. Secara tehnis, bagaimana hal itu dilakukan?
Secara teknis, satu membuat schedule dan perencanaan antar stakeholders. Dua, melakukan diskusi teknis sebelum patroli, tiga, dibagi dalam beberapa kategori: concession between concession, concession between Kelompok Tani Hutan, concession between government and KTH too. Dan do you know? Joint patrolling ini dilakukan secara swadaya, dengan sumber daya masing-masing!
Ya, saya teringat artikel yang pernah saya kutip, judulnya “Partnership: from Transactional to Transformation”. [i] Itu barangkali ya, esensi yang Anda lakukan?
I think so..
Adakah pengalaman yang unik saat berproses hingga akhirnya memunculkan ide patroli bersama itu?
Ada tentu saja. Uniknya ketika dilontarkan ide, temen-teman memikirkan biayanya dan dampak yang akan timbul, karena banyak pelaku illegal activities juga. Soal biaya kita katakan bahwa ini adalah pekerjaan yang sudah kita lakukan seperti biasa. Yang diperlukan adalah, mari kita mendekat bersama dengan kemampuan yang kita punya. Hingga muncul (ungkapan) bahwa “Qoqom adalah perekat atau lem nya temen-temen di Bukit Tigapuluh.”😄 Ada yang nyeletuk dari Dishut, saya masih ingat, “Kalau nggak (dengan) Mbak Qoqom, saya gak akan mau diajak patroli berjalan 22 km jauhnya dibawah gerimis hujan…” Ini juga…saking deketnya, saya harus dengarkan curhat para LM sampai berjam jam! Hahaha…
Bagaimana manfaat dari partisipasi di kegiatan Oxfam dan Partnership-ID beberapa waktu lalu? Manfaat apa yang paling dirasakan dalam konteks aktifitas Anda saat ini?
Secara pribadi menambah informasi dan pengetahuan baru, bagaimana mengadopsi metode maupun adaptasi nilai2 SDGs dengan program yang sedang dikerjakan. Secara institusional juga mampu menjadi referensi bagaimana mengelola atau me manage project dengan tim yang berbeda polanya. Manfaat yang paling dirasakan adalah sentuhan paradigma baru ya, bagaimana membangun partnership dalam mengelola landskap hutan tersisa dengan 3 perspektif utama: gender, ekonomi, hak-hak dalam krisis hingga management risk dalam penanganan program didalamnya, plus improvisasi nilai SDGs nya sendiri ya… Cause ini tantangan yang gak mudah.
(tip)
[i] https://pid.ena.nz/10689/articles/dari-transaksional-menuju-transformasional/
[i]https://pid.ena.nz/10689/articles/dari-transaksional-menuju-transformasional/
[ii]Lihat persoalan seputar pelaksanaan partnership di Indonesia dalam catatan Yanti Triwardiantini (founder P-ID) dalam https://pid.ena.nz/10238/articles/my-journey-of-brokering-for-sustainable-development/

