(Bagian pertama dari dua tulisan)

Kemitraan atau program yang berbasis kemitraan sangatlah kompleks sehingga sangat sulit untuk diukur keberhasilannya. Hasil atau capaian program biasanya lebih mengulas tentang kegiatan memberikan manfaat dan dampak yang direncanakan, dan biasanya dinilai sesuai dengan kriteria yang disusun oleh donor atau mitra-mitra yang terlibat. Meski demikian, program kemitraan tetap perlu mengkaji manfaat bagi setiap pihak yang bermitra. Artikel ini akan mengulas faktor-faktor yang dapat dijadikan ukuran keberhasilan sebuah program kemitraan, yang dikutip dari buku Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Bappenas, 2019.

********

Hal terpenting yang membawa keberhasilan suatu kemitraan adalah pola pikir dan kemampuan berkolaborasi. Untuk itu kemitraan memerlukan komitmen yang tulus untuk memahami bersama proses kemitraan, menghargai perbedaan, keterbukaan, menerapkan kesetaraan, serta semua mitra berperan aktif.

Dari sisi pengelolaan kemitraan, belum banyak yang mendalami tentang pihak yang menentukan kriteria keberhasilan dan cara mengukurnya. Padahal efektifitas proses hasil yang diharapkan lewat menjalani kemitraan, akan lebih baik dari pada program dikerjakan sendiri-sendiri. Untuk itu, para mitra hendaknya mengkaji:

  • Apakah kerja sama yang dijalani membawa manfaat bagi masyarakat secara efektif?
  • Apakah para mitra merasakan manfaat dari keikutsertaannya dalam prakarsa kemitraan?; dan
  • Apakah kolaborasi merupakan cara yang tepat dibandingkan hubungan transaksional biasa?

Kemitraan yang efektif memerlukan pendekatan atau metoda pengukuran yang berbeda. Karena sifat kolaboratif dan partisipatori dari kemitraan, maka proses penelitiannya juga harus dilakukan bersama dan melibatkan sebanyak mungkin mitra yang terlibat.

Persiapan Pembentukan Kemitraan

Sebelum aktifitas dimulai, semua pihak wajib memahami proses kemitraan. Kesamaan pola pikir dan prinsip-prinsip penting yang harus dipatuhi, memberikan panduan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam semangat kolaborasi.

Dalam kemitraan, paradigma yang diterapkan memposisikan masyarakat sebagai subyek pembangunan (people centered development) sehingga terlibat dalam proses perencanaan sampai pelaksanaan dan evaluas

Kemitraan dapat dikatakan berhasil bila melakukan tujuan dan target-target capaian yang disetujui bersama. Kebersamaan dalam penyusunan rencana kerja, merupakan elemen yang sangat penting, dan bukan ditentukan sepihak oleh mitra atau donor yang memberikan dana awal.

Hakikat “kebersamaan” dalam program kemitraan perlu diusahakan sejak awal yaitu dalam hal membuat design program bersama, saling berbagi atau memberi kontribusi dalam berbagai bentuk serta menanggung resiko yang timbul secara bersama-sama. Ketiga elemen kemitraan tersebut akan merekatkan komitmen semua pihak dan menimbulkan rasa memiliki (sense of ownership) terhadap program.

Semua mitra hendaknya memahami kekuatan maupun keterbatasan masing-masing, terutama mengenai prinsip dan prosedur yang tidak dapat diubah dengan mudah. Pemahaman ini penting dalam rangka meminimalkan potensi salah paham, pengharapan yang terlalu besar, atau prasangka buruk. Tentunya para mitra juga perlu luwes menyesuaikan kondisi perbedaan kemampuan tersebut demi mencapai tujuan bersama.

Salah satu prinsip kemitraan yang sering menjadi perdebatan adalah kesetaraan. Untuk menyadari dan menjawab isu kesetaraan, diperlukan pola pikir yang jernih bahwasanya “setara” tidak sama dengan “sama rata”. Dengan perbedaan-perbedaan yang ada, baik dalam hal kekuasaan, kapasitas, dan kapabilitas, maka tidaklah mungkin membaginya dengan sama rata. Dengan demikian, kesetaraan diartikan pemberian kesempatan yang sama secara tulus untuk berkontribusi sesuai kelebihan dan kekurangan masing-masing

Transparansi perlu diusahakan semaksimal mungkin, meskipun pada kenyataannya setiap mitra memiliki hal-hal yang bersifat rahasia (confidential). Dalam hal ini, transparansi diterapkan dalam lingkup kerjasama untuk membentuk akuntabilitas.


Kemitraan yang sehat adalah kemitraan yang dapat bekerja untuk mencapai manfaat spesifik bagi setiap mitra di atas manfaat bersama bagi masing-masing mitra. Hanya dengan cara inilah kemitraan dapat memastikan keberlanjutan komitmen dari masing-masing mitra. Ketakutan yang timbul dalam menjalani kemitraan sesungguhnya berawal dari asumsi-asumsi. Namun di saat yang sama, ketakutan itu juga dapat menimbulkan inovasi dan ide-ide baru di luar ekspektasi awal.

Dalam kemitraan seringkali tidak ada individu atau lembaga yang memegang peran penting sebagai “pengelola kemitraan”. Semua pihak bekerja secara intuitif, atau bahkan bersikap pasif reaktif.
Akibatnya kemitraan sering diwarnai dengan dominasi salah satu mitra, yang menyebabkan posisi kolaborasi tidak lagi memiliki netralitas yang memadai. Adanya dominasi salah satu mitra, dapat
merusak semangat mitra-mitra yang lain, dan cenderung membawa hubungan kemitraan ke arah transaksional.

Tentang Perjanjian Kemitraan

Sebuah prakarsa kemitraan yang berhasil, tidak hanya bertumpu pada capaian kegiatan namun juga bagaimana proses, hubungan antar mitra, manfaat dan kapasitas para mitra selama masa kemitraan berlangsung. Oleh karena itu, salah satu aspek yang krusial untuk mencapai kemitraan yang sukses adalah pembuatan Perjanjian Kemitraan yang benar dan jelas mencerminkan prinsip kebersamaan, dengan ciri-ciri antara lain:

  • Para mitra/organisasi membuat bersama ketentuan-ketentuan yang berlaku, disesuaikan dengan peraturan yang berlaku di masing-masing organisasi
  • Tujuan kemitraan ditentukan, dan masing-masing organisasi merinci apa saja yang dikontribusikan.
  • Mencakup akuntabilitas bersama.
  • Mengusahakan kesetaraan dan transparansi di antara sesama mitra.
  • Memperbolehkan mitra untuk mengkontribusikan hal-hal yang tidak dapat dibeli atau yang sifatnya non-fisik, misalnya ilmu, jejaring, kearifan lokal, dan sebagainya.
  • Berisi tentang keinginan untuk mencapai tujuan bersama

(bersambung).


Tags: