Oleh Aam Bastaman
Pengantar
Tulisan ini merupakan bagian dari makalah Dr. Aam Bastaman yang disampaikan pada Mukernas Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) di Banjarmasin, 25-27 September 2018. Sebelumnya pada bulan Januari 2018 Kementerian Tenaga Kerja/Direktorat Produktifitas bersama Universitas Trilogi dan Asian Productivity Organization (APO) Tokyo mengundang Prof. Gunter Pauli, penggagas Blue Economy, untuk menjadi pembicara utama pada konferensi internasional mengenai Blue Economy. Prof. Pauli sendiri sudah menulis beberapa buku, diantaranya “The Blue Econmy, 10 Tahun, 100 Inovasi, 100 Juta pekerjaan”. Buku ini merupakan terjemahan The Blue Economy, 10 Years, 100 Innovations, 100 Millions Jobs (2010), sudah diterbitkan oleh Akast Publishing, Jakarta (2013). Makalah ini terinspirasi dari presentasi Prof. Pauli di Jakarta pada acara International Conference on Blue Economy, Januari 2018. P-ID mengutipnya sebagai upaya membagikan paparan konsep masa depan yang terus berkembang. Selamat mengikuti.
Latar belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia sedang dalam krisis yang membahayakan keberlangsungan umat manusia, beberapa krisis tersebut diantaranya: Kerusakan lingkungan hidup, kemiskinan, ketidakmerataan kesejahteraan, perubahan iklim/bencana alam ataupun cuaca ekstrim (merata terjadi di hampir semua kawasan di dunia), kriminal seperti perdagangan manusia, prostitusi, perbudakan, konflik antar geng dan bandar narkoba, serta peperangan, baik perang saudara, maupun perang antar negara yang masih terjadi di berbagai belahan dunia. Hal-hal tesebut di atas selain menyisakan masalah keadilan juga menyebabkan dunia menghadapi tantangan keberlangsungannya.
Berbagai upaya terus dilakukan untuk mencegas krisis tersebut diatas dapat diminimalkan, namun kemajuan penanganan krisis tersebut masih sangat minim. Salah satu krisis yang dapat ditangani bersama-sama umat manusia adalah krisis kerusakan ekosistem, dengan merubah cara kita berhubungan dan merespons terhadap alam. Kuncinya adalah kesiapan dan respons kita, umat manusia, sebagai khalifah di muka bumi ini terhadap krisis melalui perubahan gaya hidup (life style).
Meskipun terdapat kemajuan teknologi yang merubah cara manusia hidup dan berbisnis, krisis lingkungan memerlukan perubahan perilaku. Kita semakin menyadari bahwa masa depan itu adalah saat ini. Sehingga kita bisa menyambut dengan ucapan: selamat datang masa depan! Diperlukan upaya-upaya kreatif untuk mengatasi permasalahan yang semakin kompleks dan dinamis serta penuh turbulensi ini.
Gagasan Ekonomi Biru
Konsep Ekonomi Biru dikembangkan untuk menjawab tantangan, bahwa sistem ekonomi dunia cenderung ekploitatif dan merusak lingkungan: selain karena limbah, kerusakan alam disebabkan oleh eksploitasi melebihi kapasitas atau daya dukung alam. Inti dari Ekonomi Biru adalah Sustainable Development yang merupakan koreksi sekaligus perkayaan dari Ekonmi Hijau denagan semboyan “Blue Sky – Blue Ocean” dimana Ekonomi tumbuh, rakyat sejahtera, namun langit dan laut tetap Biru. Suatu proses dimana semua bahan baku berikut proses produksi berasal dari alam semesta dan mengikuti cara alam bekerja, dengan memberdayakan sumber daya dan masyarakat lokal (Pauli, 2013).
Model Ekonomi kedepan akan memperhitungkan keuntungan dan strategi inovasi dengan mengikuti kondisi alam. Ekonomi Biru merupakan suatu pendekatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang telah kurang baik dan menciptakan lebih banyak kegiatan dalam bentuk model yang Sustainable. Konsep ini memerlukan adanya peran serta masyarakat (inklusif).
Selain prinsip efisiensi sumber daya di atas, ada sejumlah prinsip yang dianut dalam Ekonomi Biru (Pauli, 2013). Pertama, nirlimbah (zero waste) dan menekankan sistem siklikal dalam proses produksi sehingga tercipta produksi bersih (clean production). Artinya, limbah dari sebuah proses produksi akan menjadi bahan baku atau sumber energi bagi produksi berikutnya. Contoh yang diberikan Prof. Pauli cukup menarik, yang telah dipraktekkannya baik dalam skala pribadi mau pun korporasi, yakni pemanfatan limbah ampas kopi sebagai bahan baku dan media tumbuh dari jamur, yang kemudian dijual dan menghasilkan pendapatan lain.
Kedua, inklusi sosial, yang berarti pemerataan sosial dan kesempatan kerja yang banyak untuk orang miskin. Dalam paparannya di acara “Ted X”, Pauli mencontohkan bagaimana saat ini bahan baku untuk tekstil dapat diambil dari batu pecahan dari limbah penambangan dimana saja.
Ketiga, inovasi dan adaptasi, yang memperhatikan prinsip hukum fisika dan sifat alam yang adaptif.
Keempat, efek ekonomi pengganda, yang berarti aktivitas ekonomi yang dilakukan akan memiliki dampak luas dan tak rentan terhadap gejolak harga pasar. Hal ini karena Ekonomi Biru menekankan pada luaran produk yang bersifat ganda sehingga tidak bergantung pada satu produk (core business) semata. Tidak kalah penting juga pemanfaatan sumber daya lokal sebagai keutamaan, selain partisipasi masyarakat secara kolaboratif untuk berperan serta dalam kegiatan ekonomi yang produktif dan berkesinambungan.

