Dr. Aam Bastaman

Dr. Aam Bastaman adalah dosen dan peneliti pada Universitas Trilogi, Jakarta. Tulisan aslinya dapat dilihat baik pada link berikut Aam Bastaman: Ekonomi Biru dan Pembangunan Ekonomi (3) — Gerakan Masyarakat Mandiri (gemari.id). Tulisan ini mengulas perbedaan antara konsep “green economy” dan “blue economy” (yang dipelopori oleh Prof. Gunter Pauli), suatu hal yang sebetulnya merupakan proses dialektis bagi masa depan bumi yang lebih baik. Selamat membaca.

Banyak pertanyaan diajukan kepada saya, apa bedanya ekonomi biru dengan ekonomi hijau?  “Ekonomi Hijau” mendorong transformasi ekonomi ke arah investasi ramah lingkungan dengan karbon rendah, efisiensi sumber daya, dan kesejahteraan sosial, serta mendorong terciptanya pola konsumsi dan pertumbuhan produksi secara berkelanjutan. Pada level paradigma, “ekonomi hijau” dipengaruhi oleh aliran modernisasi ekologi, sebuah aliran yang berusaha mensinergikan ekonomi dan lingkungan dengan pendekatan yang cenderung positivistik, dimana seolah proses sosial ekonomi dan ekologi adalah linier dan universal. Sebuah definisi dari UNEP (United Nation Environment Programme) saya ketengahkan sebagai rujukan.

Green Economy is “…  one that results in improved human well-being and social equity, while significantly reducing environmental risks and ecological scarcities.” Dengan kata lain, “… a green economy can be thought of as one which is low carbon, resource efficient, and socially inclusive.” Pengertian lain lain tentang green economy dapat dipandang sebagai “…is one whose growth in income and employment is driven by public and private investments that reduce carbon emissions and pollution, enhance energy and resource efficiency, and prevent the loss of biodiversity and ecosystem services.” (UNEP, 2008).

Kesimpulan utama dan esensi dari green economy adalah mengurangi karbon, efisiensi sumber daya alam, tenaga kerja efisien dan termasuk (efek) sosial.

Sedangkan konsep “blue economy” menjalankan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya alam  secara berkelanjutan dan didukung oleh  sistem produksi efisien dan bersih tanpa  merusak lingkungan untuk kemakmuran umat  manusia masa kini dan masa yang akan datang. Menggali sumber alam, belajar dari alam dan  menggunakan proses-proses yang terjadi di alam.

Dengan demikian perbedaan mendasar ekonomi hijau adalah penekanan pada investasi yang tinggi untuk membersihkan lingkungan; rendah karbon, bersih, mengurangi sampah, dan menggunakan tenaga kerja terbatas. Akibatnya, terdapat konsekwensi terhadap harga, yakni harga produk yang lebih mahal. Sedangkan ekonomi biru berprinsip membangunkan semangat kewirausahaan, melibatkan partisipasi semua kalangan, memberikan keuntungan kepada perusahaan dan masyarakat bersamaan dengan lingkungan bersih dan penggunaan tenaga kerja efisien berbasis tenaga kerja dan sumber daya lokal yang ada. Meski demikian, keduanya tetap berbicara soal keberlanjutan (sustainability).

Pendekatan ekonomi hijau ini saat ini masih banyak dianut meski harus diakui terdapat sejumlah kelemahan, seperti menghasilkan produk yang mahal (ekolabel) sehingga tidak terjangkau oleh orang miskin, perdagangan karbon yang tidak adil untuk dunia ketiga, dan sering kali hanya menyentuh solusi permukaan saja, dan tidak menyentuh upaya perubahan perilaku manusia. Ekonomi Hijau sering kali digolongkan sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai ekologi-dangkal (shallow ecology) (Lihat: www.oxfordreference.com).

Adalah Prof. Gunter Pauli, (seorang pengusaha, pembicara global, ekonom, inovator, dan penulis yang proyek dan aktivitasnya menjangkau seluruh dunia) yang kemudian berusaha mengkoreksi praktik ekonomi hijau dan mengembangkannya menjadi ekonomi biru. Adalah mimpinya untuk menciptakan langit dan laut yang tetap biru dan menyejahterakan dimana laut dan langit biru itulah simbol lingkungan yang bersih. Secara paradigmatik, Pauli mengakui ekonomi biru terinsipirasi oleh aliran ekologi-dalam (deep ecology) sebagaimana diperkenalkan Naess tahun 1973 (Lihat: Arne Naess, “At the Roots of Deep Ecology” (downtoearth.danone.com>2012/07/05) dan Naess (1997).

Terdapat 8 (delapan) pendekatan dalam konsep ekonomi biru versi Pauli. Aspek pendekatan pertama yaitu ramah lingkungan. Pendekatan yang kedua adalah keberlanjutan. Pendekatan ketiga yaitu, multi revenue, yakni memiliki banyak keuntungan dari segi lingkungan, sosial, dan ekonomi. Pendekatan keempat yaitu sistem produksi bersiklus. Pendekatan kelima yaitu prinsip nirlimbah (zero waste). Pendekatan keenam yaitu inovasi berwawasan ekosistem, ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan ketujuh yaitu partisipasi  pemerintah, dan pendekatan terakhir adalah partisipasi masyarakat.

Dengan demikian, aliran ini menekankan pentingnya tata nilai baru, cara berpikir dan tindakan kolektif baru yang tidak menempatkan alam sebagai obyek. Selain itu, menekankan pentingnya memahami prinsip bagaimana alam bekerja, yang populer dengan istilah kembali ke alam (back to nature). Aliran ini lebih konstruktivistik dan nonlinier sehingga kekhasan lokasi sangat diperhatikan. Namun diakui bahwa tak ada resep tunggal untuk mengatasi masalah lingkungan.                 

Paling tidak, gagasan Gunter Pauli ini membawa harapan baru – langit biru, laut biru, dan masyarakat sejahtera. Harapan kemandirian lokal akan tercipta, termasuk dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kuncinya: kreativitas.

Tags: