Pengantar:
Sebagaimana dikemukakan pada artikel sebelumnya, pola yang dianut TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penaggulangan Kemiskinan) Bappenas adalah menyelaraskan nilai kebersamaan dan nilai ekonomi antara kepentingan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Untuk kerja sama ketiga pihak tersebut, penerima manfaat menjadi target bersama, dengan pengelolaan proyek dan pengelolaan dana menjadi elemen yang sangat penting diawasi demi akuntabilitas bersama. Adapun proses yang dilakukan bersama meliputi penentuan kebutuhan, rencana aksi, kebutuhan pendanaan, dan pelaksanaan (implementasi). Artikel ini menampilkan bagaimana pola-pola kemitraan tersebut diimplementasikan dalam program “Upaya Percepatan Penanggulangan Stunting”
Sekitar 37 % (9 juta anak) di Indonesia mengalami “stunting” yaitu kondisi anak yang mengalami kurang gizi kronis disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi di seluruh wilayah dan lintas kelompok pendapatan di Indonesia. Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan.
Pada tahun 2012, OECD PISA (Organisation for Economic Co-operation and Development – Programme for International Student Assessment), melakukan penilaian terhadap kompetensi 510.000 pelajar usia 15 tahun dari 65 negara, termasuk Indonesia. Penilaian yang mencakup bidang membaca, matematika, dan science, menunjukkan tingkat “kecerdasan” anak Indonesia berada di urutan 64 terendah dari 65 negara. Pengalaman dan bukti internasional menunjukkan bahwa stunting menyebabkan :
- Hambatan pertumbuhan ekonomi (mengurangi 11 persen GDP)
- Hambatan produktivitas pasar kerja, karena mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20 persen,
- Memperburuk kesenjangan, mengurangi 10 persen dari total pendapatan seumur hidup, serta
- Menyebabkan kemiskinan antargenerasi.
Penentuan Kebutuhan Berbasis Data
Pengumpulan data stunting Indonesia dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan. Terdapat 15 kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas) 2013, yaitu survei representatif tingkat nasional yang mengumpulkan indikator terkait stunting dan informasi kesehatan lainnya. Dari 15 kabupaten/kota tersebut, 5 (lima) kabupaten teratas adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan di Provinsi NTT dengan tingkat stunting mencapai 70,4 persen; Kabupaten Intan Jaya sebesar 68,9 persen dan kabupaten Dogiyai sebesar 66,1 persen, keduanya di Provinsi Papua; Kabupaten Lombok Utara di Nusa Tenggara Barat sebesar 65,8 persen serta Sumba Tengah sebesar 63,6 persen di propinsi NTT.
Perencanaan Program
Kerangka penanganan stunting direncanakan mencakup program-program sebagai berikut:
- Intervensi gizi spesifik (berkontribusi 30 persen):
Program ini ditujukan kepada anak yang masuk dalam kategori “1.000 (seribu) Hari Pertama Kehidupan” atau HPK. Intervensi dilakukan oleh sektor kesehatan dan bersifat jangka pendek. Bantuan untuk ibu hamil dilakukan dengan:
- Pemberian makanan tambahan untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis;
- Pemberian suplemen zat besi dan asam folat;
- Mengatasi kekurangan iodium;
- Penanggulangan infeksi cacingan;
- Pencegahan dan penatalaksanaan malaria;
- Pembatasaan kafein;
- Pemberian konseling gizi;
- Pencegahan dan deteksi dini ibu dengan HIV dan
- Pemberian suplemen kalsium.
2. Intervensi gizi sensitif (berkontribusi 70 persen):
Intervensi gizi sensitive ini ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum di luar 1.000 HPK, terutama ibu menyusui dalam dua kategori.
Bantuan untuk ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan dilakukan dengan cara:
- Promosi dan edukasi menyusu dini dengan pemberian ASI jolong/colostrum;
- Promosi dan edukasi pemberian ASI eksklusif;
- Pemberian informasi mengenai gizi selama menyusui;
- Pencegahan dan deteksi bagi ibu dan anak dengan HIV.
Bantuan untuk ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan dikerjakan dengan cara:
- Promosi dan edukasi pemberian ASI dilanjut MP-ASI sesuai dengan;
- Penanggulangan infeksi cacingan bagi ibu dan anak;
- Pemberian suplemen zat besi kepada anak;
- Imunisasi lengkap;
- Pencegahan dan pengobatan diare;
- Implementasi rumah sakit ramah anak;
- Pemberian suplemen vitamin A.
Pelaksanaan intervensi gizi sensitif berlanjut pada aktifitas sebagai berikut:
- Penyediaan akses pada air bersih;
- Sanitasi dan kebersihan pribadi pemberian bahan pangan seperti vitamin A, D dan yodium;
- Penyediaan akses kesehatan dan Keluarga Berencana;
- Pemberian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN);
- Pendidikan pengasuhan kepada orang tua; program pendidikan anak usia dini;
- Pendidikan gizi masyarakat;
- Edukasi kesehatan seksual, reproduksi, dan gizi pada remaja; pemberian bantuan dan jaminan sosial bagi masyarakat miskin;
- Peningkatan ketahanan pangan, diversifikasi pangan;
- Pelayanan kesehatan ibu hamil;
- Pemberdayaan perempuan;
- Upaya perlindungan anak; serta tele-medicine.
Kemitraan dengan dunia usaha
Kerjasama pemerintah dengan sektor swasta, dilakukan salah satunya dengan PT Sinar Mas Agribisnis, yaitu intervensi pencegahan stunting di wilayah potensial berbasis kemitraan. Sejumlah rekomendasi kegiatan pencegahan stunting telah disampaikan, termasuk:
- Penyediaan akses air bersih
- Penyediaan akses pada sarana sanitas dan kebersihan pribadi (jamban)
- Promosi pencegahan penyakit tidak menular melalui program pendidikan gizi masyarakat dan pola hidup bersih dan sehat, dan
- Pemberian akses listrik dasar (lampu tenaga surya).
Pemilihan wilayah sasaran, disesuaikan dengan daerah operasional PT Sinar Mas Agribisnis. Dari hasil pemetaan tentang data kemiskinan, maka dipilih kabupaten-kabupaten berikut ini:
- Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
- Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat
- Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat
- Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah
- Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan
Penutup:
Secara umum program penanggulangan stunting telah mencapai kemajuan yang cukup signifikan. Diluar dari data yang ditampilkan pada buku TNP2K, data penurunan angka prevalensi stunting dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


