Pengantar
Artikel aslinya telah dimuat pada Jakarta Globe.id (Fire-Free Alliance Takes Next Step to Combat Forest Fires (jakartaglobe.id) dan kami memuatnya kembali untuk senantiasa menyadarkan segenap stake holder bahwa masalah kebakaran hutan akan selalu mengintai di wilayah Indonesia bahkan juga Asia Tenggara, seraya mengingatkan publik akan peran penting FFA dalam mencegah kebakaran hutan. Tentu juga untuk tidak melupakan kontribusi Partnership-ID dalam membersamai perjalanan FFA sehingga mencapai hasil-hasil yang cukup signifikan hingga saat ini.
*******
Kisahnya kembali pada tahun 2016, ketika masalah kabut asap yang terus-menerus terjadi mendorong sejumlah perusahaan sektor swasta dan organisasi non-pemerintah membentuk aliansi guna mengidentifikasi strategi yang efektif untuk mencegah kebakaran hutan. Sejak saat itu Fire-Free Alliance (FFA) telah berkolaborasi secara teratur untuk berbagi informasi dan sumber daya untuk mengatasi masalah kebakaran dan kabut asap di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara.
FFA kemudian memutuskan untuk menggandeng perusahaan yang kerap terlibat dalam isu keberlanjutan, Partnership ID, untuk menjajaki operasi aliansi di masa depan. Sejak saat itu Partnership-ID telah mengadakan sejumlah lokakarya teknis dan latihan pelingkupan dengan anggota FFA untuk membantu menentukan cara terbaik untuk memaksimalkan nilai dan dampak kelompok.

“Yang dilakukan FFA adalah berbagi praktik terbaik dalam pencegahan kebakaran hutan,” kata pendiri dan CEO Partnership-ID, Yanti Triwadiantini dalam diskusi virtual baru-baru ini.
“FFA memberdayakan masyarakat untuk membantu mencegah kebakaran hutan. Tidak hanya sebatas berbagi prakiraan atau pengalaman, tetapi juga untuk memfasilitasi penanganan teknis tindakan pencegahan kebakaran di lapangan dan memobilisasi sumber daya,” lanjutnya lagi.
Dalam beberapa bulan berikutnya, Partnership-ID telah memberi saran kepada anggota FFA tentang pengembangan peta jalan masa depan untuk operasi grup melalui serangkaian lokakarya.
“Anggota FFA mungkin dapat mempertimbangkan program bersama, antara lain seperti pengembangan aplikasi untuk membantu berbagi informasi. Atau mereka dapat memilih untuk mengerjakan kegiatan teknis di lapangan, apakah ini prakiraan atau pencegahan kebakaran, atau inisiatif lain yang bisa dikolaborasikan oleh anggota FFA untuk jangka panjang,” kata Yanti.
FFA terutama terdiri dari perusahaan kehutanan dan pertanian, seperti produsen pulp dan kertas Grup APRIL, bersama dengan LSM dan mitra lainnya. Namun masih ada ruang bagi FFA untuk berkembang, terutama mengingat pendekatan kolaboratifnya untuk mencegah dan memerangi kebakaran hutan.
“FFA dapat berkembang lebih lanjut sebagai forum multi-stakeholder dengan masuknya universitas, kelompok ahli, dan tokoh masyarakat,” ungkap Yanti menambahkan.
Menurut Yanti, pengembangan FFA lebih lanjut sebagai forum multi-stakeholder akan membantu aliansi menjalin kerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya.
Kebakaran hutan disebabkan oleh berbagai sumber, termasuk praktik tebang bakar yang masih dilakukan oleh penduduk desa baik atas inisiatif sendiri maupun atas perintah pemilik lahan (termasuk perusahaan).
“Sayangnya, perusahaan-perusahaan yang melakukan hal yang benar untuk mencegah kebakaran hutanlah yang justru ditunjuk sebagai biang keladi persoalan. Oleh karena itu, kami perlu melibatkan pemangku kepentingan bisnis dan masyarakat lainnya dalam diskusi kami untuk mengatasi kesalahpahaman,” kata Yanti.
Anggota FFA saat ini adalah Grup APRIL, Asian Agri, IOI, Musim Mas, Sime Darby, Wilmar International Limited, IDH dan PM Haze. Program yang dijalankan oleh anggota FFA dalam beberapa tahun terakhir telah secara signifikan mengurangi jumlah kebakaran dan dampak kabut asap pada anak-anak, orang tua dan anggota masyarakat yang rentan lainnya.
Sejak awal, lebih dari 200 desa, yang mencakup setidaknya 1,5 juta ha lahan di berbagai wilayah Indonesia, telah berpartisipasi dalam inisiatif pencegahan kebakaran berbasis masyarakat melalui FFA.
(tip/yt)

