Bagian kedua dari dua tulisan
Materi tulisan ini dikutip dari buku “Kemitraan TNP2K Bappenas”, 2019. Tim Partnership – ID menyajikan ulang materi-materi yang terdapat di dalamnya agar dapat menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak yang bermaksud melakukan program kemitraan dalam berbagai bidang. Bahasan dari buku ini tentu memiliki kelebihan karena berbasis pada kasus-kasus program kemitraan yang telah dan masih berjalan dalam rangka pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Perilaku dan Kompetensi Para Mitra
Dalam semua kemitraan, mau tidak mau individu yang terlibat memiliki peran penting. Oleh karenanya, individu-individu yang ditugasi oleh masing-masing lembaga perlu memiliki keterampilan yg memadai agar seluruh lembaga mitra dapat bekerja secara sinergis. Individu yang terlibat hendaknya memiliki pola pikir yang terkait dengan prinsip-prinsip kemitraan. Sikap/perilaku yang mendasar adalah saling menghormati, menghargai keragaman, berlaku transparan/jujur, mengedepankan manfaat bersama (tidak egois), serta berani mencoba inovasi-inovasi baru. Untuk itu sangat disarankan adanya program peningkatan kapasitas/kapabilitas bagi semua mitra terkait, sekaligus menciptakan adanya alih pengetahuan/keahlian.
Organisasi mitra yang terlibat dalam kemitraan, baik secara kebetulan/keharusan (karena merupakan bagian dari sistem, baik itu pemerintah, bisnis atau organisasi), perlu memberikan dukungan sepenuhnya. Tanpa dukungan yang tulus, maka proses kemitraan akan terhambat karena adanya keengganan dan keragu-raguan para personil yang terlibat. Perjalanan suatu kemitraan memerlukan waktu yang cukup bagi semua pihak untuk bersinergi, memperkuat kapasitas, dan melakukan pembelajaran bersama. Dalam kondisi darurat, yang mau tidak mau harus dilakukan gotong royong, maka proses kemitraan perlu mendapat perhatian khusus agar tidak menimbulkan konflik dikemudian hari.
Efisiensi dan Efektifitas Kemitraan
Kemitraan memerlukan pengelolaan yang baik, dan tidak dapat berjalan sendiri tanpa ada pihak-pihak yang membantu menentukan arah, membuat peta jalan (road map), membantu koordinasi dan memastikan tujuan dicapai atau diubah bila perlu. Komunikasi merupakan salah satu kunci utama yang mempengaruhi hubungan antara mitra. Komunikasi yang berjalan baik/harmonis, akan memperkuat semangat dan sinergi antar-mitra.
Keterlibatan lembaga mitra sangat mempengaruhi komitmen serta kelancaran pekerjaan kemitraan. Perlu dipastikan bahwa setiap lembaga mitra telah direstui oleh manajemen atau pimpinan, sehingga para individu yang terlibat dapat melakukan fungsinya secara penuh.
Aktifitas kemitraan memerlukan sistem manajemen untuk memastikan proses kemitraan berjalan sesuai tahapan yang benar. Sistem tersebut bisa diterapkan secara manual, maupun secara online bila para mitra secara geografis berjauhan.
Hasil dan Produktifitas
Kemitraan yang sukses akan selalu berorientasi pada capaian/dampak (outcome) dan keluaran (output). Hasil-hasil tersebut merupakan tujuan bersama. Selain itu para mitra hendaknya mencapai tujuan organisasi juga, sehingga manfaat keterlibatan dalam kemitraan dapat dirasakan.
Program kemitraan perlu memaksimalkan nilai dari setiap organisasi mitra. Dalam banyak contoh kemitraan, potensi/kapasitas lembaga mitra tidak ditemu-kenali pada masa penjajakan, sehingga kontribusi yang diberikan tidak maksimal.
Program pembangunan di mana pun hendaknya mengedepankan dampak dan perubahan yang nyata serta berpengaruh luas. Selain itu, ketika tercipta dampak yang melebihi apa yang dinikmati oleh penerima manfaat langsung, maka hendaknya ada penghargaan yang disampaikan oleh penerima manfaat, dan komunitas yang lebih luas.

Salah satu hikmah dan manfaat lebih yang diperoleh setiap organisasi mitra adalah pemahaman dan pengalaman baru tentang kerja sama dengan pihak-pihak lain sehingga memiliki sistem dan kebijakan
operasional yang lebih baik. Adanya sistem informasi terpadu yang dibangun bersama para mitra, dapat memberikan penguatan kelembagaan bagi setiap mitra, jika informasinya mudah diakses dan dipahami dengan mudah. Sistem informasi terpadu di masa kini, dapat menggunakan fasilitas on-line (email, website, facebook, Instagram) maupun off-line (surat kabar berkala, pertemuan-pertemuan berkala) untuk wilayah-wilayah yang belum terjangkau dengan informasi teknologi (internet).
Pendamping Kemitraan
Dalam semua proses kemitraan, selalu ada pihak atau seseorang yang berperan menjadi navigator yang membantu para mitra menempuh perjalanan kemitraan. Peran ini disebut “Pendamping Kemitraan”, yang membantu para mitra menyusun rencana kegiatan (road map), merencanakan dan memberitahukan arah (navigasi), serta memilihkan cara dan merekomendasikan perubahan bila diperlukan.
“Pendamping Kemitraan” mengandung berbagai peran/fungsi yang simultan atau bergantian sesuai kondisi dan kebutuhan, sebagai berikut:
- Membangun gagasan, akuntabilitas, dan pengambilan keputusan.
- Menjadi promotor atas suatu gagasan, dengan memberikan contoh kasus-kasus keberhasilan di tempat lain
- Membantu para mitra dalam berperan aktif sebagai “bridge” (jembatan) antarpihak secara bergantian.
- Memberikan pilihan-pilihan, alternatif pemecahan masalah
- Menjadi teladan dalam perilaku dan tata kelola kemitraan
- Menjadi mediator bagi pihak-pihak yang berselisih, sambil mendidik atau menunjukkan peluang pembelajaran.
- Melatih kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan.
Perlunya seseorang atau sebuah lembaga yang bertugas menjadi “pengelola/pendamping kemitraan”, adalah faktor yang sangat membantu perjalanan kemitraan yang panjang dan penuh dengan situasi yang kompleks dan perubahan tak terduga. Berbeda dengan peran “match-maker” yang mempertemukan / memperkenalkan dua atau lebih pihak, “pendamping kemitraan” harus mampu memerankan berbagai fungsi tersebut di atas sesuai kebutuhan dan situasi.
Program kemitraan dapat mengundang/memperkerjakan pihak lain yang professional dan netral (eksternal), atau membangun kemampuan internal di kalangan mitra-mitra yang terkait (internal). Sistem mana pun yang dipilih, hendaknya mengikuti pelatihan yang resmi dan berkualitas sehingga tidak didasari “trial & error” atau coba-coba yang dapat berakibat fatal terhadap program kemitraan.
Keberlanjutan Kemitraan
Tentu saja tidak semua bentuk kemitraan akan berlanjut sepanjang masa. Adakalanya, karena tujuan spesifik telah berhasil maka kemitraan juga berakhir, atau diteruskan oleh salah satu mitra.
Dalam banyak prakarsa pembangunan, keberlanjutan kemitraan menjadi penting agar tidak terjadi ketergantungan pada dana maupun bantuan mitra-mitra awal. Kemitraan dapat berlanjut dimana beberapa mitra organisasi masih meneruskan kerjasama atau dalam bentuk “swakelola” yang memungkinkan para mitra meneruskan tugas lainnya atau di tempat lain.

